sains tentang makanan pesawat
mengapa rasa makanan berubah di ketinggian 30 ribu kaki
Mari kita jujur sebentar. Pernahkah kita duduk di kursi sempit pesawat, membuka lembaran alumunium foil berisi makanan hangat, menyuapkan gigitan pertama, dan langsung berpikir, "Kenapa rasanya seperti mengunyah kardus basah?" Kita mungkin langsung mendengus dan menyalahkan koki maskapai. Kita merasa mereka memotong anggaran dapur demi keuntungan, atau sekadar tidak peduli pada lidah penumpang. Tapi, coba kita pikirkan lagi dengan kepala dingin. Apakah masuk akal jika maskapai bernilai triliunan rupiah tidak bisa menyewa koki yang mengerti cara menaburkan garam? Jawabannya jauh lebih kompleks dari sekadar pelit bumbu, dan jujur saja, sedikit membebaskan rasa bersalah kita karena sering menggerutu. Masalah utamanya bukanlah pada makanannya, teman-teman. Masalahnya justru ada pada tubuh kita sendiri.
Kalau kita melihat mundur ke buku sejarah, tepatnya pada era keemasan penerbangan di tahun 1960-an, makan di pesawat itu ibarat bersantap di restoran bintang lima. Pramugari menyajikan lobster, caviar, hingga daging panggang yang dipotong langsung di lorong kabin. Tapi anehnya, catatan sejarah menunjukkan keluhan tentang rasa makanan yang hambar tetap saja bermunculan dari para penumpang kelas atas tersebut. Secara psikologis, saat kita terbang, kita sebenarnya berada dalam kondisi bertahan yang tidak wajar. Kita duduk diam di dalam tabung logam yang melesat dengan kecepatan ratusan kilometer per jam di atas awan. Otak kita diam-diam sibuk memproses kecemasan ringan, kelelahan, dan rasa tidak nyaman. Namun, psikologi saja tidak cukup untuk menjelaskan mengapa secangkir kopi favorit kita tiba-tiba terasa sangat pahit di udara. Ada kekuatan fisika dan biologi yang secara tak kasat mata sedang membajak indera kita.
Bayangkan kita sedang berdiri di puncak gunung yang sangat tinggi. Di ketinggian 30 ribu kaki, kabin pesawat harus ditekan secara artifisial agar kita tetap bisa bernapas dengan normal. Akibatnya, kelembapan udara di dalam kabin anjlok drastis, mencapai di bawah 12 persen. Artinya, udara di dalam kabin pesawat itu secara harfiah lebih kering daripada udara di Gurun Sahara. Udara yang sangat kering ini tanpa kita sadari mulai mengeringkan lapisan lendir di hidung kita. Lalu, ada tekanan udara yang sangat rendah di sekitar kita. Belum lagi suara deru mesin pesawat yang konstan berdengung di telinga kita, yang bisa mencapai 85 desibel selama berjam-jam. Pertanyaannya, apa hubungannya telinga yang bising dan hidung yang kering dengan lidah kita yang sedang mengunyah ayam bumbu kecap? Hubungannya ternyata sangat intim, dan ini membawa kita pada sebuah rahasia anatomi yang luar biasa.
Di sinilah hard science memberikan jawaban utamanya. Fakta biologisnya, sekitar 80 persen dari apa yang kita sebut sebagai "rasa" sebenarnya berasal dari indera penciuman kita, bukan lidah. Ketika hidung kita mengering karena udara kabin yang sekelas gurun tadi, reseptor bau kita praktis mogok kerja. Makanan yang aromanya menggugah selera di darat, menjadi kehilangan wanginya di udara. Tapi itu belum seberapa. Kombinasi antara udara kering dan tekanan rendah kabin membuat sensitivitas lidah kita terhadap rasa manis dan asin merosot tajam hingga 30 persen. Lidah kita secara harfiah mengalami mati rasa sementara. Lalu, bagaimana dengan suara mesin yang bising? Eksperimen di bidang psikoakustik menemukan bahwa kebisingan latar belakang yang tinggi menekan kemampuan otak mendeteksi rasa manis, tapi secara ajaib meningkatkan sensitivitas kita terhadap rasa gurih. Inilah alasan ilmiah yang sangat elegan mengapa jus tomat—yang sangat kaya akan asam amino glutamat atau umami—terasa jauh lebih segar dan nikmat di pesawat dibandingkan saat kita meminumnya di darat. Di langit, umami adalah raja.
Jadi, mari kita beri sedikit empati dan rasa hormat kepada para koki di balik menu maskapai penerbangan. Mereka sebenarnya tidak sekadar memasak; mereka sedang melakukan eksperimen sains yang luar biasa sulit. Mereka harus memodifikasi resep, menambahkan lebih banyak garam, dan memasukkan rempah-rempah secara agresif ke dalam makanan kita, hanya agar rasanya menjadi "normal" saat kita menyantapnya di langit. Pengetahuan ini rasanya tidak hanya membebaskan kita dari rasa sebal, tapi juga mengubah total cara kita menikmati perjalanan. Lain kali kita terbang, kita sudah tahu strategi terbaiknya. Pesanlah makanan yang kaya rempah, jamur, saus tomat, atau apapun yang memiliki profil umami tinggi. Pada akhirnya, memahami sains di balik hal-hal kecil membuat dunia ini terasa lebih masuk akal dan menyenangkan. Bahkan saat kita sedang melayang 30 ribu kaki di atas bumi, berdesakan di kelas ekonomi, sambil mencoba menikmati seporsi pasta ayam yang kini kita tahu cerita rahasia di baliknya.